Cangkir caffe menjadi saksi tempat nongkrongku bersama teman - teman minggu ini. Hari Senin lalu tiga band indie beraksi di panggung Cangkir. Mereka menampilkan aliran musik yang berbeda - beda, rock, pop jazz, dan rege.
Performance para personil band rege itu yang menarik perhatian saya. Kita tahu kalau musik rege kan belum membumi di Indonesia, jadi ketika melihat mereka seperti dibawa ke dunia baru. Sebenarnya musik simple, ga ada melodi dari gitar yang ruwet, mudah didengar, dan intro awalnya kebanyakan pukulannya sama, "trataktaktaktak", hahaha, apa mungkin aku aja yang awam sehingga kedengarannya sama.
Bukan hanya musiknya yang enak, gaya personilnya juga unik. Vokalisnya gendut, suaranya datar tapi enak dan jelas, memakai topi dan bergaya dengan lincah. Yang paling menonjol, personil yang berambut gimbal panjang, dengan gayanya yang selalu manggut - manggut mengikuti irama musik membuat penonton sesekali tertawa.
Penonton atau penggemarnya juga gak kalah, jangan salah sangka, walaupun mereka belum dikenal di Indonesia, tapi hari itu dia paling banyak penggemarnya dan ada komunitas rege yang datang. Dari pengamatanku mayoritas orang daerah timur Indonesia, ambon, Irian, dan lain - lain. Ketika musik rege dimainkan, semua pecinta rege itu maju dan berdiri di bawah panggung, lalu berjoget dan membuat gaya - gaya yang aneh menurutku. Ada yang berputar - putar, ada yang saling bergandengan tangan dan membuat gerakan.
Performance para personil band rege itu yang menarik perhatian saya. Kita tahu kalau musik rege kan belum membumi di Indonesia, jadi ketika melihat mereka seperti dibawa ke dunia baru. Sebenarnya musik simple, ga ada melodi dari gitar yang ruwet, mudah didengar, dan intro awalnya kebanyakan pukulannya sama, "trataktaktaktak", hahaha, apa mungkin aku aja yang awam sehingga kedengarannya sama.
Bukan hanya musiknya yang enak, gaya personilnya juga unik. Vokalisnya gendut, suaranya datar tapi enak dan jelas, memakai topi dan bergaya dengan lincah. Yang paling menonjol, personil yang berambut gimbal panjang, dengan gayanya yang selalu manggut - manggut mengikuti irama musik membuat penonton sesekali tertawa.
Penonton atau penggemarnya juga gak kalah, jangan salah sangka, walaupun mereka belum dikenal di Indonesia, tapi hari itu dia paling banyak penggemarnya dan ada komunitas rege yang datang. Dari pengamatanku mayoritas orang daerah timur Indonesia, ambon, Irian, dan lain - lain. Ketika musik rege dimainkan, semua pecinta rege itu maju dan berdiri di bawah panggung, lalu berjoget dan membuat gaya - gaya yang aneh menurutku. Ada yang berputar - putar, ada yang saling bergandengan tangan dan membuat gerakan.